29 Januari 2012

Dikadalin Smartfren

Ini adalah tulisan saya di kompasiana, tetapi saya sharing juga deh dengan temen temen di Blog..sebuah kekecewaan pada sebuah pelayanan setelah berkali kali dan saya ultimatum pada hari sabtu 28 -01 -12 pagi tidak juga digubris…..:

Ini adalah tulisan saya yang dibuat dengan sesadarsadarnya, berawal ketika handphone cdma saya tidak dapat berfungsi karena simcard nya yang rusak. Sebagai seorang customer yang haknya tidak dapat terpenuhi tentu saja tindakan pertama sesuai dengan prosedur penanggulangan pada kecelakaan adalah mendatangi customer service yang terdekat. Kebetulan saya lokasi di bilangan nekasi, maka saya mendatangi outlet smartfren di bekasi yang kini telah pindah ke mall metropolitan. Tentu saja seperti ke rumah sakit saat posisi urgent jika ada organ tubuh yang tidak berfungsi, maka mestinya ada penangan khusus seperti ICU..tetapi di counter smartfren mall metropolitan ini tidak seperti yang saya bayangkan yang bisa dengan mudah cepat menyediakan kartu SIMCARD FREN yang rusak dan menggantinya. Dengan alasan nomor kartu saya adalah nomor lama, periode sebelum gabung dengan Smart, masih bernama asli FREN, maka SIMCARD yang saya cari ternyata tidak ada alias stock kosong ! dan saya disuruh kembali minggu depan.

Bayangkan…! ( moga bisa membayangkan…) jika saya adalah pasien dengan status gawat darurat karena ada organ yang rusak dan mengakibatkan tubuh saya tak berfungsi…lalu disuruh datang lagi minggu depannya….waaaaahhh…kebangetan jika pas saya datang setelah menunggu tujuh hari juga tidak dapat yang saya perlukan. Eh benar ternyata apa yang saya bayangkan kejadian….makanya mulai sekarang saya tidak berani membayangkan sesuatu karena takut kejadian….itu dampaknya. Benar, jawaban yang saya terima: ” Mohon maaf, Pak, SIMCARDnya belum tersedia, di pusat juga kosong…! Upsss…%$#$%^%$@#$@^& !!!!!!!  untung saya nggak pingsan…sebab yang layani perempuan..#maaf untuk yg ini nggak ada hubungannya..:) # Dua minggu praktis saya dirugikan sebagai konsumen karena tagihan bulanan berjalan terus sebab saya pelanggan pascabayar. Rugi nggak tuh ? ya rugiiiiiii lah ! sebab kesalahan bukan di pesawat televisi anda tetapi di stasiun penerbit SIMCARD nya …bukan di Handphone saya yang salah. Mestinya SMARTFREN sebagai operator seluler yang jasanya saya pakai untuk komunikasi saya bahkan jauuuuuuuh sebelum FREN gabung dengan sinarmas , waktu masih di bawah KOMSELINDO  ( 082 ……..) dengan berbasis CDMA, lalu menjadi Mobile-8 dengan FREN nya dan kini menjadi SMARTFREN, tidak memperlakukan customer setianya yang sudah sejak lama bergabungdengan kekecewaan seperti ini. Di mana letak profesionalisme SMARTFREN ?

Kekecewaan bertambah sebab ketika sebulan setelah itu, saat saya baru mendapatkan SIMCARD Pengganti, itupun dengan MENGORBANKAN waktu jam kerja saya ( betapa ruginya lihat hanya untuk urusan SIMCARD rusak  saya harus bolak balik Jati Asih – Mall Metropolitan berkali kali dalam sebulan, lalu ditambah lagi harus ambil jam kerja ke jl SABANG , pusat nya SMARTFREN ! ) waaahhhh tentu luar biasa sekali hanya untuk urusan beginian. Bayangkan…..cobaaa…bayangkan ! :)   #ya Tuhan semoga bisa membayangkan…:) #  Kecewa-kecewa-kecewa-kecewa tentu saja kecewa…..dan yang lebih kecewa lagi saat saya menerima Billing Tagihan…ternyata tagihan bulanan yang pas pada saat SIMCARD saya RUSAK dan meminta penggantian yang tak tersedia, masih ditagih juga…! Saya jadi ingat lagu Rhoma Irama : ” TERLALU ” dan lagu inilah yang sering saya dengar setelah kasus itu…. T E R L A L U..!

Mbok ya Fair dong…kan saya sdah berusaha untuk mendapatkan penganti simcard rusak dengan datang ke outlet Smartfren berkali kali tetapi satu kesalahan SMARTFREN adalah tidak menyediakan Stoknya, Lhaaa apa ya nggak maluuuu masih juga nagih tagihan bulanannya..! o hohohoooooo……pantas saja emang di negeri ini rasa malu sudah tak ada bahkan di tangan para politikis senayan.

Komplain sih kompalin berkali kali berganti ganti Call Centre 24 Jam ada beberapa daftar nama call centre yang sudah merasuk dalam jiwa ( ahaha kayak puisi saja )…tetapi tetap sajaaaa…nggak ngaruh !  Terakhir kemarin pagi ba’da Subuh, saat saya terkaget2…karena membuka billing tagihan tetap saja argonya jalaaaan terusss…dan akhirnya dengan nafsu amarah meledak ledak #mirip ninja saga kalau lagi marah# saya telpon lagi lagi ke Call Center habis nggak ada lagi mau kemana coba ngadunya, ya ke call centre lagiii masa ke DPR ! kalaupun bisa ke DPR apa bisa diproses ketika adilan ini? Ohhh My God !  Hanya kepada Tuhan saya mengadu dan ke Kompasiana, hahaha….. eh ada YLKI ya? apa bisa ya?

Salam Cemberut. !

25 Januari 2012

Hunting Sketsa Tahun Baru Imlek di Petak Sembilan

Beberapa hari lalu saat Tahun Baru Imlek tiba, saya bersama teman teman dari Komunitas Indonesian Sketcher mencoba merekam peristiwa dan aktifitas etnis China yang merayakan Tahun Baru Imlek di sekitar Petak Sembilan dan Vihara Dharma Bakti.  Terus terang ini adalah kali pertama saya mengetahui aktifitas perayaan tahun baru imlek di sebuah Vihara .  Sejak masuk Gg Petak Sembilan sudah terasa suasana perayaan Tahun Baru imlek dengan banyaknya aksesories seperti lampu lampion merah dengan gantungannya…lalulalang orang dengan baju dan kaos khas warna merah, serta yang lebih mengesankan saya adalah keluarnya Barongsay yang sudah tidak pernah saya lihat lagi atraksinya sejak hampir 30 tahun lalu…

Ada beberapa sketsa yang saya tampilkan di postingan Blog saya khusus sketsa: di sini…….

http://sketsananangrusmana.blogspot.com/2012/01/tahun-baru-imlek-di-petak-sembilan.html#!/2012/01/tahun-baru-imlek-di-petak-sembilan.html

21 Januari 2012

Toilet Emas Senayan

puisi nanangrusmana

 

Oi…………………

Orang senayan

kotoranmu begitu berkilau cahaya pendar ke emasan

kotoran kami hindari cahaya

bahkan apalah lagi pendar kilau emas berlian

untuk apa?

kotoran kami disumpel di celah tembok retak tanpa plesteran membuat senyum

lega

kotoran kami lebih suka gelap gulita

Oi

Toilet emas jadi pundi pundi

menggunung sudah

lalu entah membeku atau mencair

salahmu salah kita semua

memilih orang orang yang suka mules

Oi

Toilet emas

buang semua kotoranmu !

 

 

Jakarta: 21 Januari 2012

untuk banggar DPR

19 Januari 2012

Ketika Hujan dan Petir Sembunyikan Nyanyian Perkutut

 

 

kudengar nyanyian burung bergantian sepanjang sepuluh tahun lamanya

mengalun lembut terdengar nyaring di hati

nyanyian burung burung perkutut di sangkar atas rumah

merdu merindu mengharu biru bila kumenjauh darinya

kudengar burung burung berkicau bersahutan

tanpa nada tanpa irama , entah pertanda apa pikirku.

Semua mengacau waktu tidurku yang tiba tiba saja hilang rasa

lalu awan hitam menggelayut langit atap rumahku

gerimis menaburi reranting,daun,bungabunga, tanaman rambat,besi besi tua rongsokan yang tergeletak mesra berdua dengan kucing kucing angora

gerimis membasahi bangku sofa, meja meja , foto foto kami semua yang sudah berdebu dan tak jelas lagi wajahnya

gerimis datang dihampiri petir yang memekakkan telinga menjatuhkan jantung

mungkin ini adalah waktuku, waktumu , waktu kami semua buat mandi berserah diri pada hujan dan air langit

hingga suci bersih badan kami.

Jakarta;19 januari 2012

nanangrusmana:

17 Januari 2012

Kenapa menulis puisi?

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak perlu saya jawab, sama seperti halnya ketika saya ditanyakan kenapa anda makan? kenapa anda mandi? kenapa anda tidur? semua sudah jelas dan terang, bahkan mungkin seterang sinar matahari yang selalu menyinari bumi dan memberikan manfaat penuh pada seluruh makhluk hidup bukan hanya manusia.

Banyak yang mengira bahwa menulis puisi adalah sejenis kegombalan..; mungkin benar untuk type orang tertentu yang memang membuat puisi sebagai katakata gombal merayu wanita, mungkin, tetapi ada banyak hal yang lebih dari sekedar kegombalan katakata. Banyak. sangat amat banyak sekali hal yang dapat dituliskan melalui puisi tidak hanya tentang rayuan. Sekiranya menulis puisi adalah rayuan pada wanita, oh…mungkin chairil anwar atau Rendra atau Prof sapardi Joko Damono akan sangat marah. Puisi adalah sebuah teks, sebuah pesan dari seseorang yang ingin disampaikan dengan bahasa yang penuh dengan gaya bahasa dan perumpamaan.

Sebagai sebuah pesan , puisi memiliki tujuan, dan semua aspek kehidupan yang ingin disampaikan seorang penyair adalah segala hal tentang hidup yang dirasakan oleh jiwanya perlu diungkapkan.  Segala hal, bukan hanya tentang cinta. Ingat bukan hanya tentang cinta. Buat saya ; kegelisahan, kemarahan,  kegembiraan, baik personal maupun lingkup sosial , bisa sebagai sebuah protes sosial atas ketidak adilan , merupakan lahan subur yang bisa menerbitkan karya karya puisi.

Jika para wartawan menuliskan kejadian sosial apa adanya sebagai bentuk laporan pandangan mata, maka seorang penyair menuliskannya sebagai sebuah rekaman peristiwa dengan penuh apresiasi atas peristiwa yang ingin diungkapkannya. Seperti puisi yang saya tulis http://nanangrusmana.wordpress.com/2011/12/17/surat-untuk-sondang-hutagalung/

Jadi, masihkah menilai penulis puisi sebagai penggombal wanita? ups……

Bekasi: Pagi buta; 17 January 2012

nanangrusmana

15 Januari 2012

Cermin saya memantulkan sang diri…

Sering ketika saya mengendarai motor dari rumah ke kantor, atau ketika mengendarai mobil bersama anak istri dan keluarga menuju luar kota, jalanan adalah inspirasi saya yang bisa tiba tiba saja datang. Jika yang lain berkendara selalu konsentrasi ke jalanan, saya malah lebih banyak mendapatkan ide ide baik berupa narasi ataupun syair puisi yang lahir di jalanan. Jadi jangan heran jika ikut dalam kendaraan yang saya kendarai, maka saya akan lebih banyak diam, sebab saya lebih banyak bicara dan dialog dengan diri saya sendiri……:) .

Kadang, saya merasakan sebuahkekuatan yang luarbiasa ketika kemarahan memuncak pada ketidak adilan, pada penguasa yang korupt, pada sebuah keadaan yang terjadi , dan mengalirkan katakata menjadi larik larik puisi yang bernada protes sosial. Ketika sebuah kondisi mendesak hati dan pikiran saya untuk introspeksi dan mawas diri atas sebuah lakon kehidupan yang harus dan telah ataupun sedang saya jalani membuat hati merasakan irisan irisan kegetiran yang menyayat bak sembilu, pena dan kertas menjadi semacam alat suntik dan narkoba yang paling saya cari di manapun berada untuk menjadi obat penawar atas segala kegelisahan yang mendera, lalu teriakan teriakan kecil bernada kegetiran menjadi penawar yang sanggup saya datangkan bahkan di saat malam ketika yang lain terlelap sekalipun atau bahkan di saat saya harus menjalani tugas pekerjaan yang menumpuk di ruang yang tidak ada satupun teman teman yang mengerti sastra ,sebab semuanya adalah enginer enginer arsitekture dan design yang lelah dengan segala hal berbau romantisme katakata fiksi.  Jika dalam kondisi seperti itu, saya merasakan kesepian yang amat mendalam, seakan hidup di dunia yang asyik sendiri tanpa orang lain tahu apa maksudny atau mungkin saya dinggap gila. Tetapi menjadi orang yang dikira gila di tengah tengah para manusia yang gila manusia adalah sebuah kenyataan yang musti saya lakoni, dan akhirnya membuat kegilaan saya ternyata menyembuhkan diri sendiri, minimal saya menjadi tahu tentang arti dan makna hidup untuk apa saya ada di sini?

Saat berada dititik nadir kehidupan, bahkan yang paling rendah dari titik nadir, entah apa namanya, saya selalu merasakan sesuatu mendorong naluri lebih kuat  untuk bisa selalu survive. Kegelisahan atau apapun namanya, menjadi teman setia yang memang selalu ikut tidur dengan jiwaku saat itu. Tak bisa dipungkiri, itulahh manusia, sebagai sebuah makhluk yang selalu gelisah. Bahkan kegelisahan itu datang hingga kini saat saya sudah jauh meninggalkan dan meloncat dari titik nadir. Kegelisahan menjadi semacam nafasku yang lalu, kini dan akan datang !

Bagaimana tidak gelisah jika setiap menit setiap detik menyaksikan ketidak adilan hukum manusia di bumi ini, janganlah kita bicara Palestine dan Israel, bicara hukum di negeri kita sendiri saja, akan mampu memupuk rasa gelisah menjadi lebih berkembang biak dalam sanubari. Atau pergilah ke jalanan ibu kota, setiap saat setiap jarak tertentu, orang tua renta , orang buta, orang tanpa layak disebut orang menjadi semacam bumbu masakan yang sudah amis untuk dibicarakan. Atau begitu tumbuh suburnya rasa ketakutan kita atau saudara perempuan kita untuk bisa berjalan dengan tenang di bis bis kota atau angkutan kota tanpa gangguan preman preman yang tak layak disebut preman sebenarnya, sebab beraninya hanya pada sesama sejenis masyarakat yang sudah lama mengalami penindasan penguasa atau bahkan para anak buah penguasa semacam polisi polisi jalanan yang tak ubahnya seperti preman preman berseragam saja, yang hanya bisa mencari cari kesalahan kaum kita yang selayaknya dijaga dan diberikan rasa nyaman untuk bisa walau hanya sekedar menghirup udara sekedar menarik: NAFAS………

Bagaimana tidak gelisah jika setiap detik, melihat dan mendengar berita tentang kematian saudara saudara kita sendiri. Kematian semacam lottere yang kita sendiri tidak tahu kapan nama diri kita sendiri muncul lalu dibacakan…lalu nafas menjadi semacam harta yang paling amat sangat berharga……..

 

Salam..malam minggu yang dingin 14 Januari 2012

nanangrusmana

Kaitkata:
15 Januari 2012

kutanyakan padamu

hei…!

sudah berapa kali pasir berputar meneteskan bulirbulir mungilnya

namun kau masih saja duduk di situ di serambi ku;

membaca puisi lalu menangis atau tertawa buatmu sama saja bukan?

 

hei..!

jikasaja kutuangkan pasir memaksamu tumpahkan semua dalam tabungku

berikan saja jangan kau simpan lalu kau hancurkan kaca beningku;

tempat pantulkan wajahku sendiri

lalu kuterbahak atau tersenyum atau menangis sedu sejan; sama saja bukan?

 

hei..!

berikan untukku pantulan sinar yang setiap saat kau gadaikan.

 

Bekasi: 14 Jan ’12

nanangrusmana

12 Januari 2012

Dan angin menghempasku

 

dan angin menghempasku di trotoar jalanan yang tiba tiba saja memakan kakikakiku hingga kutakbisa melangkah menyusuri untaian katakata dan bibirmungilmu yang tiba tiba saja memakanku bulatbulat hingga tulangbelulangku remuk redam tanpa daya, lalu wajahwajah di jembatan kereta stasiun sudirman kamis malam ini melumatku menyerangku dengan nafsu yang takkan pernah hilang, tuhanpun bahkan tak tahu kenapa aku mati malam ini di tepian rel tua stasiun sudirman

dan wajah wajah lelah menghardik kepalaku  menembus mengaliri selsel darah merahku ke setiap ujung nadinadiku membuatku beku . ya mungkin aku mati setelah mengenal wajah indahmu sambil kuberharap petimatiku terbungkus kain dan terukir indah katakata maafmu.

Jakarta: 11 Januari 2012

Stasiun Sudirman.

12 Januari 2012

rumah mungil terakhir

 

Puisi Iin Syah

 

 

dan hilang waktu

seperti tetesan embun di pucuk rambutan

yang mencuri keemasan warna langit

di senja yang habis kucoret dengan tinta ungu:rumah mungil terakhir.

 

dan semua senyap

diambil hening yang menerobos hingga ke kulit ari

menggigilkan senyuman yang habis masa

bersama bisu, ah ya… pergi saja.

 

dan mempertanyakan pagi yang tertinggal,

kemana saja?

 

ke punggung gerbong yang sengal di sepanjang rel tua

atau terminal-terminal pengap dan bau sesak peradaban yang

fuh, membuat nasaf tersengal, semakin hilang saraf,

semakin hilang kesah; rumah mungil terakhir.

 

Dimana?

pelupuk mata orang-orang lalu lalang

atau tapak tangan dengan kedua belahnya yang

tak lagi bergambar. Datar.

Nasib berpindah menjadi latar notebook

 

Ah ya,

rumah mungil terakhir.

 

bersama lukisan dari kanvas murahan

yang menjelma garis-garis tak beraturan

wajahmu

wajahnya

wajahku

wajah mereka yang simpang siur;

dari lakon-lakon vcd bajakan, 21, dosen, mahasiswa,

tukang fotocopy, penjual makanan sepanjang rel,

tukang buah, OB, dekan, profesor, tukang es doger,

sopir angkot, masinis kereta, semua,

semua yang berpapasan di jalanan

dan berakhir di jembatan penyeberangan

bersama titisan dewi sri yang menadahkan tangan

meminta sedekah untuk menebus sepiring nasi dari segenggam beras

yang dulu pernah dikutuk legenda untuk menjadi keberkahannya.

 

dan sayap patah

aku mencari ketiadaan yang melarikan logikaku hingga ke langit

apa saja

tinggal mengukir waktu pada semua bacaan, dongeng, dan wacana

yang bukan bertuliskan rindu, hanya rumah mungil terakhir.

 

Tempat cinta,

tempat pulang, tempat tak ada lagi alasan,

tempat sunyi menjamu

tempat lentera tak masalah terang atau padam

 

tempatku.

 

 

Margonda, 11 Desember 2011

 

 

Kaitkata:
11 Januari 2012

Tiga Langit Cinta di Metropolitan

Beberapa Bulan ini saya menarik diri dari menuliskan karya karya puisi, bukan berarti saya meninggalkan dunia sastra, sebab di balik sunyi senyap dunia sastra puisi di blog ini, diam diam saya menuliskan hasrat berkarya sastra dalam bentuk lain, yakni sebuah Novel:

Tiga Langit Cinta di Metropolitan

Sepenggal kisah kehidupan yang didapat dari pengamatan prilaku dan sikap para penghuni metropolitan dalam menyusuri hari demi hari yang kian berjalan menjauh dari adat timur , bahkan berusaha menghadirkan aroma kebebasan dalam mengambil sikap diantara pagutan-pagutan nilai nilai sikap ketimuran yang kian hari hanya menjadi tulisan pajangan dengan frame berukir dan bertahtakan berlian di setiap sudut framenya. Indah , tetapi hanya untuk dijadikan pajangan sebagai aksesories ruangan saja.

Lionita, seorang wanita muda belia, dilahirkan dari kehidupan keluarga broken home,  di sebuah kabupaten di jawa barat yang sangat kental suasana kehidupan agamisnya, dipaksa oleh kehidupan harus mengambil sikap perlawanan karena kehidupan yang berat harus dijalani dirinya dan keluarganya, Ibu dan satu kakak perempuannya. Kerasnya kehidupan membuatnya  lupa pada tugas utamanya untuk menyelesaikan sekolah. Perkenalannya dengan Puspa Sekar Ayu, seorang istri pengusaha muda yang sukses di Jakarta,  melalui chatting di Facebook, sebuah jejaring sosial yang sangat digemarinya dengan pulsa pas pasan, pada akhirnya menempatkan dirinya pada posisi untuk mengambil sikap:  Ikut hanyut dalam arus kehidupan atau menepi lalu menjauh.

Ketika sebagian besar kaum hawa menentang keras Poligami, dengan serta merta seorang istri rela bahkan meminta suaminya menikahi temannya sendiri..

Sebuah hujatan penulis pada prinsip Poligami dalam syariat Islam yang dijadikan alat untuk menutupi penyimpangan seksual…….

(Mungkin akan menuai kontroversi…)

Mau baca terusannya? ………..tunggu dulu……novelnya sedang dalam tahap editing, moga bisa kelar saat saya Ulang Tahun.. Amin….:)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.